Selasa, 05 Februari 2013

4 Kerugian pindahkan hujan ala Jokowi


Berbagai upaya dilakukan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo untuk mengatasi banjir di Jakarta. Apalagi, banjir yang terjadi pada pertengahan Januari lalu menyebabkan aktivitas ekonomi di Ibu Kota tersendat dan sekitar 20 orang tewas.

Salah satu cara untuk mengatasinya, pria yang akrab disapa Jokowi itu meminta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk memindahkan hujan dari darat ke laut. Dengan demikian, curah hujan di Jakarta dan sekitarnya bisa dikurangi.

Percobaan pun dilakukan, BPPT menerbangkan pesawat dan menaburkan bahan kimia dari atas udara untuk mengurangi curah hujan. Langkah itu dinilai berhasil, dan hujan di Jakarta berhasil dikurangi.

Meski berhasil mengurangi curah hujan agar tidak menambah debit air di permukaan sungai dan darat agar tidak terus bertambah, cara ini tidak selalu memberikan hasil positif saat digunakan.

Menurut Guru Besar Ilmu Tanah IPB Naik Sinukaban, sedikitnya ada empat kerugian yang dialami Jakarta jika upaya pemindahan ibu kota terus dilakukan. Seperti apa saja?

1. Air dalam tanah akan berkurang

Air memiliki manfaat begitu besar, salah satunya untuk mengatasi menjaga bagian permukaan tetap stabil. Di saat bersamaan, penyedotan air secara terus menerus telah membuat permukaan tanah mengalami penurunan.

Selain berasal dari mata air pegunungan, air di dalam tanah juga berasal dari air hujan yang mengguyur bagian permukaan. Jika tidak, bukan tidak mungkin daratan Ibu Kota akan berada di bawah permukaan laut.

"Kita butuh hujan, hujan itu berkat, anugerah dan tidak perlu dipindahkan," kata Sinukaban.

Salah satu solusi yang ditawarkan Sinukaban dan timnya, yaitu membuat sumur resapan di beberapa lokasi. Dengan demikian, aliran air di permukaan bisa masuk ke dalam tanah.

 



2. Kemarau

 

Indonesia, khususnya kawasan Jakarta telah memasuki fase musim penghujan. Dengan demikian, hujan seharusnya terus mengguyur darat dan dapat memberikan asupan cairan ke dalam tumbuhan.

Jika dipindahkan dengan paksa, Jakarta justru memasuki musim kemarau lebih cepat. Alhasil, tanaman di Ibu Kota cepat meranggas, atau bahkan mati.

"Itu tidak perlu dilakukan, karena air itu kita butuhkan," tandasnya.

 


3. Sumber air segar menghilang

 

Salah satu kondisi yang mengkhawatirkan jika dilakukan pemindahan itu adalah berkurangnya sumber air di Jakarta. Sebab, guyuran hujan biasanya merupakan komoditas utama dalam kehidupan masyarakat.

"Sumber air segar menghilang, masyarakat akan kesulitan mencari air bersih," ungkap Sinukaban.


4. Udara lembab

Sebelum hujan turun, kawasan tersebut akan mengalami fase sejuk di mana udara tercampur dengan suhu air yang dingin. Namun, pemindahan paksa membuat fase itu tidak terjadi dan menjadikan suhu udara menjadi lembab.

Sumber:

Artikel Terkait

4 Kerugian pindahkan hujan ala Jokowi
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email